
Pemilih memberikan suara di balik bilik suara
9 April 2009.
Kamis ini hari libur. Senang bisa leyeh-leyeh di rumah. Pagi cerah langit biru menambah semangat rencana pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hmmm… Pemungutan suara? Berarti suara tercecer lantas dipungut seperti pemulung memilah gelas plastik dan sampah kertas di tempat sampah.
Kok ga pas. Seharusnya kita, warga negara punya hak dan kewajiban memberikan suara, bukan membiarkan suara kita tercecer lantas dipungut begitu saja. Kita perlu mendukung harapan dan niat semua orang untuk menjadi lebih baik.
Dengan alasan itu saya memutuskan melangkahkan kaki menuju TPS. TPS di daerah pemilihan (dapil) saya adalah di sebuah SD. Tempat nyaman menghindari terik matahari, bersembunyi di balik kelas-kelas berukuran tak terlalu besar, lengkap dengan hiasan burung garuda, wajah pahlawan, dan nama-nama anak murid.

Kelas dipergunakan sebagai ruang pemberian suara
Sampai di tempat TPS sudah ada aktivitas. Banyak warga dengan senyum bangga mengangkat jari kelingking mereka ketika saya melintas. Senang melihat pemberian suara kali ini telah ditanggapi secara positif. Bahkan beberapa anak muda juga hadir memberikan suara mereka. Begitu juga kehadiran keluarga-keluarga, bapak, ibu dan anak mereka sebagai contoh sejak dini bahwa hak dan kewajiban memberikan suara adalah milik kita dan harus kita gunakan.
Kebanyakan orang seperti saya juga tidak mengenal caleg (calon legislatif) yang akan dicontreng. Informasi di dinding sekolah agak membantu saya untuk mempertimbangkan kepada siapa suara akan diberikan. Hanya butuh waktu sebentar saya sudah berada di balik kotak suara. Membungkukkan badan sambil membuka kertas suara, memegang spidol warna hitam , sambil mencari partai atau nama caleg yang akan saya pilih. Ah, ini saja… dengan cepat saya menentukan pilihan. Harapan saya, caleg ini semoga masih memiliki niat baik mewujudkan harapan-harapan warga negara seperti saya, membuat kondisi bangsa ini menjadi lebih baik.

Pemilih memasukkan surat suara ke kotak yang telah disediakan
Tinta warna ungu itu lantas melekat di kelingking setelah saya selesai memberikan suara. Sambil melangkah keluar saya lihat makin banyak warga masyarakat hadir, meski ruang kelas persis di sebelah saya yang sudah dipenuhi pemilih belum juga memulai pencontrengan.
Hari makin siang. Harapan yang diberikan pada banyak nama akan segera terlihat nyata.
Saya memilih untuk memilih agar negara ini menjadi lebih baik.
Salam contreng!