Kekerasan adalah Kita

Mutilasi. Siapa sangka manusia tega memotong-motong manusia lain. Siapa tak kenal Ryan sang mutilator, tanpa rasa takut memotong lebih dari 3 orang. Entah berapa korbannya. Sungguh sadis! Kasus lain, seorang istri tega memotong suami, lagi-lagi mutilasi terjadi. Astaga!

Kini menghabisi nyawa manusia sudah hal biasa. Tayangan sarapan pagi di televisi. Konflik dan bentrokan, kekerasan adalah main course dari hidangan pagi hari. Kita menyaksikan kekerasan seperti menonton film serial favorit. Bahkan kita semakin menikmati dan menanti. Benarkan?

Jakarta, kota padat penduduk dengan aneka rupa perilaku membuat manusia sering mengalami kekerasan. Secara individual, lembaga, komunitas/kelompok, adat istiadat dan budaya. Bahkan secara struktural maupun domestik. Kekerasan membentuk Jakarta. Serobot, serunduk, embat (baca: ambil tanpa permisi), pukul, potong. Kekerasan adalah Jakarta. Di rumah, di jalan, di pasar, terminal, kantor, di keluarga! Kita terkondisikan menjadi keras dan akhirnya melakukan kekerasan di ibukota ini.

Manusia adalah korban dan pelaku kekerasan. Seperti dua sisi mata uang. Manusia tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Sengaja atau tidak kita mampu berbuat kekerasan. Memukul, menendang, mencaci maki, meneror, bahkan membunuh, dan (yang sedang tren) memutilasi. Habis sehabis-habisnya.  Manusia adalah korban dan kekerasan itu sendiri.

Kekerasan adalah kita.

Tinggalkan Balasan