Touch The Heart

Juni 24, 2008

touch the heart

Kemarin saya hadir pada acara sosialisasi peraturan perusahaan tempat saya bekerja.
Tidak semua bisa hadir dan sayangnya beberapa pimpinan manajemen pun tidak kelihatan batang hidungnya padahal mereka diharapkan bisa memberikan penjelasan dan pendampingan buat anak buah yang sering bertanya soal “aturan main” dan kerap dikecewakan oleh aturan main itu.
Pada slide pertama presentasi seorang Pemimpin SDM (baca: HRD), beliau menampilkan sebuah gambar yang menarik.
Seekor sapi, ayam dan babi berdiri bersebelahan di depan “hasil” mereka.
Sapi diperah susunya, ayam bertelur dan babi.. ups meski saya suka tapi mohon maaf tidak semua orang makan dagingnya.
Gambar ini menarik bagi saya karena menjelaskan bagaimana seorang manusia sebagai karyawan kerap disamakan dengan sapi, ayam bahkan seekor babi.
Kita diperah, dibuat untuk terus bertelur, dan ditunggu hasil daging terbaiknya.
KPI (Key Performance Indicator) yang mulai diterapkan di tempat saya bekerja pun menilai manusia dari sisi kuantitas, angka dan angka.
Berapa banyak susu yang bisa diperah, berapa buah telur yang bisa dihasilkan, dan berapa kilo daging yang bisa dijual.
Lantas mana sisi kualitas yang justru menjadi keunikan dan kelebihan dari seorang manusia.
Membedakan saya dan kita semua dari seekor sapi, ayam dan babi atau sebuah robot.
Jika Google membuat sisi kualitas manusia menjadi menonjol, mempersilahkan keunikan manusia menjadi sumber pendapatan mereka, perusahaan kita ini masih berkutat dengan kuantitas dan menanti angka-angka.
Memang tidak bisa disamakan begitu saja kebiasaan manusia Indonesia dengan orang “Bule” yang sudah memiliki etos kerja berbeda.
Tidak bisa juga dengan mudah kebiasaan orang barat disamakan dengan kebiasaan orang timur atau dicampur aduk.
Tapi manusia tetap manusia, yang perlu disapa, diperhatikan, didengarkan dan diberi penghargaan. Diajak bicara dan diorangkan. Disentuh hatinya, bukan dimenangkan.
Sayangnya menilai kualitas manusia di tempat saya bekerja masih terbatas hanya mengukur angka.
Bagi saya, It’s not about winning the heart. It’s about touching the heart.

Bersyukur

Juni 4, 2008

Give Thanks

Setiap hari saya bersyukur karena boleh bangun pagi. Seluruh organ tubuh dan fungsinya juga masih normal. Bisa ngulet, menguap dengan membuka selebar-lebarnya mulut. Menghirup udara menghimpun tenaga.

Saya bersyukur karena masih berjumpa dengan sanak keluarga. Ayah, Ibu, adik. Sarapan bersama secara sederhana.

Bersyukur bisa melihat televisi, mendengarkan radio, cek sms di telepon genggam. Itu artinya masih ada listrik yang membuat semua alat elektronik ini berfungsi dengan baik. Masih ada sinyal di udara yang m

embuat komunikasi berjalan dengan baik.

Saya bersyukur karena pagi membuat semangat kembali. Ada tujuan yang ingin dicapai. Rencana yang ingin diraih dan diselesaikan. Masih mendapat kesempatan bekerja. Ada sekumpulan aktivitas, segudang ide, puluhan e-mail dan sms yang membutuhkan jawaban. Janji-janji yang rindu ditepati.

Saya bersyukur boleh hidup dan berbagi cerita melalui tulisan ini.

Salam!

created on my 31st anniversary.

Mentari Fajar

Juni 4, 2008

Perasaan syukur dan terima kasih ada setiap hari, setiap pagi kala mentari fajar menerobos jendela. Ucapan syukur betapa baik Tuhan memberikan kesempatan hidup satu hari lagi meluncur dari mulut saat berdoa.

Mentari fajar selalu adil. Ia selalu hadir di mana saja. Untuk siapa saja. Dan itu semua diberikan secara gratis. Ia mengingatkan bahwa selalu ada pagi. Selalu ada cahaya menerobos kegelapan. Ia muncul di garis cakrawala dengan semangat. Membahagiakan. Menghidupkan.

Kasih Tuhan seperti mentari fajar. Bersinar cerah. Menghangatkan jiwa yang lesu. Jiwa yang berharap pagi. Mentari fajar selalu ada dalam hati kita. Menerangi dan membimbing hidup kita. Hidup yang selalu pagi.

Selamat Pagi!