Pulang Kampung

September 14, 2009

Istilah pulang kampung atau mudik akrab di telinga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Setiap orang yang adu nasib di Jakarta telah mencari tiket pulang sejak  satu bulan, bahkan lebih sebelum Hari Lebaran. Semua ingin pulang ke kampung halaman tempat asal mereka. Pulang kampung telah menjadi semacam tradisi tiap satu tahun sekali. Meski perjalanan panjang, menempuh kemacetan dan padatnya lalu lintas mudik, pemudik menjalaninya dengan penuh semangat  dan sukacita.

Meski tidak ikut melakukan tradisi tersebut, saya merasakan dampak ketika semua orang pulang kampung.

Saya mendapatkan kesempatan melalui jalan-jalan ibukota lebih lengang, sepi tanpa kepadatan berarti. Di Hari Raya Lebaran, warga Jakarta yang tidak mudik bisa ikut merasakan betapa nyaman melintas di jalan protokol di kawasan Thamrin dan Sudirman.

Selain itu beberapa teman mulai cerita soal pembantu yang pergi tak pernah kembali. Sudah menjadi kebiasaan bahwa pembantu rumah tangga mayoritas menjadi pemudik yang memadati jalur Pantai Utara atau Selatan Jawa dalam rangka pulang kampung. Mereka umumnya berasal dari berbagai daerah di Jawa. Tapi entah kenapa banyak pembantu yang tidak kembali ke majikan mereka setelah pulang kampung. Mungkin saat yang tepat pikir mereka untuk ganti majikan setelah Lebaran selesai. Hasilnya, teman-teman saya jadi repot cari informasi soal pembantu.

Dampak lain adalah ikut icip-icip berbagai macam hidangan khas saat Lebaran. Ketupat, Opor Ayam, Sambal Goreng Kentang, Buncis dan Ati ampela dan Kerupuk, termasuk kue-kue lezat, menjadi teman saat bersilaturahmi ke tempat keluarga, dan kerabat. Tetangga kiri dan kanan pun kerap mengirimkan serantang menu makanan khas Lebaran ke rumah saya. Ah lezatnya!

Selain itu biasanya anak-anak remaja atau anak-anak kecil diberi uang oleh orang tua mereka atau paman dan bibi saat mereka berkunjung. Menarik kan bisa mengumpulkan uang dari beberapa tempat saat Lebaran datang.

Lepas dari itu semua, pulang kampung saya maknai sebagai sarana mengingat asal kita, tempat di mana kita mengawali langkah hidup. Setiap orang yang merantau hendaknya ingat kampung halaman, terutama ingat akan orang tua yang membesarkan mereka. Tradisi pulang kampung menjadi kesempatan baik menjalin kembali hubungan komunikasi yang jarang dilakukan lagi, atau mungkin terputus setelah sekian lama mengadu nasib di ibukota.

Lagipula memang saat yang tepat jika di hari yang fitri setiap orang kembali mengingat kembali asal mereka. Membersihkan diri dengan hati yang penuh sukacita merayakan Lebaran bersama orang tua, keluarga dan kerabat.

Selamat Pulang Kampung.

Selamat Merayakan Lebaran!


Belajar dan Mengajar Memanfaatkan Internet

Agustus 6, 2009

Seorang teman cerita, dia pernah ditanya seorang anak kecil, masih usia SD. Pertanyaannya begini, “Om… Om… punya facebook ga? Aku boleh add ya!” Pria teman saya ini agak kaget lantas bergumam dalam hati “Wah hebat ya dia sudah punya facebook”

Cerita singkat di atas menunjukkan suatu pengalaman bahwa kini interaksi anak-anak sudah sedemikian rupa dengan internet. Pertanyaannya, apakah itu saja aktifitas yang bisa dilakukan melalui internet, apakah sekedar facebooking, update status di twitter, cek e-mail atau chatting?

Kemampuan internet lebih dari itu semua. Internet bisa jadi sarana pendidikan. Guru dan murid sebagai bagian dari dunia pendidikan bisa memanfaatkan internet. Keduanya bisa saling memanfaatkan internet, belajar dan mengajar melalui internet.

Akses internet kini makin mudah dijangkau dengan kapasitas tidak terbatas. Sejumlah internet service provider, operator selular sudah menawarkan layanan akses internet, saling berlomba paling murah, makin tidak terbatas. Di beberapa sekolah juga sudah tersedia perangkat notebook atau PC dan akses internet. Bahkan ada juga sekolah menyediakan warnet (warung internet).Selain itu perkembangan sarana perangkat notebook, dan kini populer juga netbook sudah semakin pesat. Menawarkan fitur-fitur menarik dan layanan. Penting dicatat, harga perangkat tersebut sudah semakin murah dan terjangkau.

Guru di jaman ini diwajibkan belajar bagaimana bisa memanfaatkan internet sebagai sarana pendidikan. Misalnya dengan belajar membuat blog, menulis di ensiklopedia online seperti wikipedia, membuat akun e-mail, mencari bahan ajar, dan membuat presentasi multimedia sebagai sarana pengajaran. Bahkan internet bisa dijadikan sarana menguji murid secara on-line.

Murid pun bisa memanfaatkan internet. Misalnya mencari bahan pekerjaan rumah, membaca e-book, melihat referensi tambahan di wikipedia, menulis blog sebagai sarana latihan menulis, dan masih banyak lagi.

Internet juga sudah dimanfaatkan misalnya sebagai sarana menjadwalkan kelas dan menata mata pelajaran termasuk melihat hasil nilai ujian dan tugas secara online.

Pada dasarnya, internet bisa membantu guru dan murid. Internet sama seperti pisau. Bisa dijadikan alat bantuan, atau alat kejahatan. Semua tergantung siapa menggunakan internet.  Kata kuncinya di sini adalah belajar. Maukah guru dan murid sama-sama belajar lagi memanfaatkan internet agar membantu proser belajar dan mengajar di kelas.

Ke depan makin banyak perangkat komputer makin pintar dan canggih. Akses internet bisa dengan mudah dan murah. Saatnya murid dan guru di Indonesia ditantang memanfaatkan sarana Internet. Semoga peringkat no.2 soal kejahatan di internet yang diraih Indonesia bisa hilang dari daftar tersebut dan tergantikan menjadi penghargaan dan peringkat penemuan terbaru berkat internet. Murid dan guru sama-sama belajar, makin kreatif dan makin pintar berkat internet.

Mari Online!

Beberapa link yang perlu:


Mbah Surip, Mbah Kreatif Lintas Generasi

Agustus 5, 2009

Generasi kreatif adalah orang-orang yang bekerja dengan gairah, setia dan berkelanjutan.

Pria kelahiran Tahun 1949 ini, yang kemudian dikenal secara populer dengan nama Mbah Surip, adalah contoh kecil orang-orang yang hidup dengan gairah. Gairah bermusik. Gairah berkesenian. Gairah sebagai orang kreatif.

Lihat saja pengalaman hidupnya. Pernah bekerja sebagai profesional di industri pertambangan, bahkan mengadu nasib di luar negeri. Soal pendidikan pun Mbah Surip adalah “tukang” Insiyur ditambah lagi bergelar Master of Business Administration (MBA).

Penampilannya jauh dari kesan pria intelektual, “white collar”  atau eksekutif bisnis di Jakarta. Rambutnya gimbal, menyandang gitar, lebih sering naik motor atau diantar ojek, dan ketawanya Hahaha, sambil membuka lebar-lebar kedua mulutnya dikelilingi keriput wajah marka usia.

Lagu berjudul  Tak Gendong yang ia ciptakan 1983 tidak langsung meraup rupiah. Memang demikianlah Mbah Surip lantas dikenal di mana-mana, diundang stasiun TV, “manggung” di pentas-pentas musik. 2009 ini, Mbah Surip dan Tak Gendong adalah sebuah fenomena hidup. Contoh orang yang setia berkarya meski pada suatu masa belum laku atau tidak sesuai “selera pasar”

Ring back tone (RBT) Tak Gendong berhasil menerobos angka miliaran rupiah sejak 2009. Ini adalah sebuah makna bahwa kesetiaan akan menghasilkan buah yang manis, meski manisnya hanya melintas sebentar di kancah musik tanah air.

Gairah kreatifitas yang terus-menerus dilakukan oleh pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur ini memberikan inspirasi bahwa kata kreatif lintas usia, “ageless” , lintas generasi.

Meski hanya melintas sebentar di antara selebritis Indonesia, Mbah Surip meminta kita merefleksikan makna “belajar salah” melalui lagu Tak Gendong dan selalu mengajak kita tertawa HA HA HA…!!!

Selamat jalan Mbah Surip. Rest in Peace!


~ In memoriam Urip Ariyanto “Mbah Surip” 4 Agustus 2009 ~


Mengurus Sendiri Perpanjangan SIM C KTP Bekasi

Agustus 5, 2009

Gara-gara SIM C saya sudah kadaluarsa maka harus segera diperpanjang agar saya bisa naik motor lagi dan SIM C tidak mati. Kalau mati malah repot harus urus SIM C baru.

Sebelum mengurus perpanjangan SIM C,  saya sudah menimbang-nimbang apakah akan mengurus melalui layanan SAMSAT Keliling DKI Jakarta atau pergi ke kantor polisi di Kota Bekasi. Menurut pengalaman teman, pelayanan SAMSAT Keliling di DKI Jakarta mudah dan cepat, plus murah tanpa urusan berbelit-belit. Saya ingin coba pengalaman itu, namun mengingat saya ber-KTP Bekasi maka niat itu saya urungkan. Saya tidak yakin juga apakah SAMSAT Keliling bersedia menerima perpanjangan SIM C saya yang ber-KTP Bekasi.

Segera pagi itu saya meluncur menggunakan motor menuju Kota Bekasi. Tempat tujuan saya adalah kantor polisi, POLRES Bekasi. Letaknya di Jl.Pramuka No.79 di depan alun-alun kota Bekasi. Sampai di sana cari parkir. Tidak usah takut tidak ada tempat, karena banyak ruang halaman ruma sekitar polres dijadikan lahan parkir.

Setelah parkir, saya ditawari jasa beberapa calo. Niat mengurus sendiri perpanjangan SIM C mampu mengalahkan tawaran-tawaran calo itu.  Saya lantas masuk ke halaman polres dan bertanya lokasi pengurusan SIM.

Letak area pengurusan SIM ada di area belakang polres. Baca beberapa petunjuk dan tanyakan lokasi pada pak polisi berseragam, jangan tanya kepada orang-orang berpakaian biasa karena mungkin saja calo.

Saya lantas ikut antri, ambil formulir, bolak-balik sana sini mengurus perpanjangan SIM C.

Berikut ini beberapa hal yang penting diperhatikan saat perpanjangan SIM C:

  1. Uruslah pada pagi hari.  Pagi hari tidak terlalu ramai meskipun sudah antri dan kita bisa menunggu lebih lama tidak terburu-buru.
  2. Siapkan dokumen yang diperlukan. Fotokopi KTP sejumlah 4x (perpanjangan SIM) dan 6x (pembuatan SIM baru)
  3. Awali proses dengan tes kesehatan. Istilah saya ini tes kesehatan “super kilat” Kenapa begitu? Karena pada saat tes kesehatan, kita ditanya berapa berat badan dan tinggi tubuh. Jika sudah berkacamata, kita tidak dites lagi minus berapa, hanya dilakukan tes buta warna saja. Biaya tes kesehatan di poliklinik adalah Rp.22.000. Poliklinik letaknya di belakang area pengurusan SIM dekat dengan kios fotokopi.
  4. Setelah proses tes kesehatan “super kilat” kita menuju ke loket asuransi. Biaya asuransi senilai Rp.30.000.
  5. Sesudah bayar biaya asuransi, kita ke loket bank membayar biaya perpanjangan senilai Rp.60.000,. Jika kita membuat SIM baru dikenai biaya Rp.75.000. Kita akan diberikan formulir setelah bayar.
  6. Sekarang tiba saatnya pengisian formulir. Formulir bisa diambil di loket 1. Perhatikan isian yang diminta dan isi lengkap.
  7. Periksa lagi formulir, apakah semua sudah terisi. Jika sudah, kita antri di loket perpanjangan/pembuatan SIM baru. Serahkan formulir, bukti pembayaran, tes kesehatan, asuransi,  dan fotokopi KTP serta SIM kadaluarsa ke petugas di loket.
  8. Tunggu panggilan foto. Perhatikan nama kita dipanggil sebaiknya jangan pergi keluar area agar kita berada ditempat ketika dipanggil. Pengalaman saya, sekitar 20 menit, kita sudah dipanggil untuk foto.  Proses foto adalah proses terakhir karena setelah proses ini, SIM sudah bisa diambil. Jika kita membuat SIM baru maka ada proses ujian. Saya tidak mengamati jelas apa saja ujian yang dilakukan, rasanya ada 2 yaitu ujian tertulis dan praktek.
  9. Jika SIM sudah bisa diambil, setelah nama kita dipanggil lagi, segera ke loket pengambilan kartu asuransi.

Biaya Perpanjangan SIM

  • Tes kesehatan Rp.22.000
  • Asuransi Rp.30.000
  • Formulir dan biaya perpanjangan Rp.60.000
  • Total Rp.112.000

Jika via calo di area tersebut sekitar 200 ribu, kalau via calo yang tinggal telp dari rumah sekitar 350 ribu.

Kesimpulannya, mudah kok, asal mau sabar, antri, siap dengan dokumen-dokumen yang diperlukan dan yang penting saya bisa hemat biaya karena lebih murah daripada via calo.

Salam!


Di Luar Hujan Lebat

Juni 11, 2009

Basah. Semua orang menghindari mungkin juga menerobos tak henti.
Ada yang berteduh. Ada yang ngelamun menemani motor di bawah jembatan layang entah di belakang sana macet mobil-mobil antri karena jalan jadi menyempit.
Di balik ponco pakaian basah bahkan sampai ke dalam, kendaraan tetap dipacu karena penuhi janji, entah apa.
Di dalam rumah orang bersiap diri, mungkin air akan segera naik, banjir. Mengepung hingga tak bisa keluar rumah.
Di luar sana bocah-bocah berlari menghampiri menawarkan jasa ojek payung, tak peduli lagi badan kuyup, pakaian basah.
Di balik jendela seseorang sedang melamun memandang air menampar-nampar, kilat menyambar, deru geledek menggelegar.
Di dalam batok kepala, otak berputar, tak henti berpikir, akankah hujan berhenti sambil menanti mentari bersinar lagi


Memilih untuk Memilih

April 8, 2009

Pemilih memberikan suara di balik bilik suara

Pemilih memberikan suara di balik bilik suara

9 April 2009.

Kamis ini hari libur. Senang bisa leyeh-leyeh di rumah. Pagi cerah langit biru menambah semangat rencana pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hmmm… Pemungutan suara? Berarti suara tercecer lantas dipungut seperti pemulung memilah gelas plastik dan sampah kertas di tempat sampah.
Kok ga pas. Seharusnya kita, warga negara punya hak dan kewajiban memberikan suara, bukan membiarkan suara kita tercecer lantas dipungut begitu saja. Kita perlu mendukung harapan dan niat semua orang untuk menjadi lebih baik.

Dengan alasan itu saya memutuskan melangkahkan kaki menuju TPS. TPS di daerah pemilihan (dapil) saya adalah di sebuah SD. Tempat nyaman menghindari terik matahari, bersembunyi di balik kelas-kelas berukuran tak terlalu besar, lengkap dengan hiasan burung garuda, wajah pahlawan, dan nama-nama anak murid.

Kelas dipergunakan sebagai ruang pemberian suara

Kelas dipergunakan sebagai ruang pemberian suara

Sampai di tempat TPS sudah ada aktivitas. Banyak warga dengan senyum bangga mengangkat jari kelingking mereka ketika saya melintas. Senang melihat pemberian suara kali ini telah ditanggapi secara positif. Bahkan beberapa anak muda juga hadir memberikan suara mereka. Begitu juga kehadiran keluarga-keluarga, bapak, ibu dan anak mereka sebagai contoh sejak dini bahwa hak dan kewajiban memberikan suara adalah milik kita dan harus kita gunakan.

Kebanyakan orang seperti saya juga tidak mengenal caleg (calon legislatif) yang akan dicontreng. Informasi di dinding sekolah agak membantu saya untuk mempertimbangkan kepada siapa suara akan diberikan. Hanya butuh waktu sebentar saya sudah berada di balik kotak suara. Membungkukkan badan sambil membuka kertas suara, memegang spidol warna hitam , sambil mencari partai atau nama caleg yang akan saya pilih. Ah, ini saja… dengan cepat saya menentukan pilihan. Harapan saya, caleg ini semoga masih memiliki niat baik mewujudkan harapan-harapan warga negara seperti saya, membuat kondisi bangsa ini menjadi lebih baik.

Pemilih memasukkan surat suara ke kotak yang telah disediakan

Pemilih memasukkan surat suara ke kotak yang telah disediakan

Tinta warna ungu itu lantas melekat di kelingking setelah saya selesai memberikan suara. Sambil melangkah keluar saya lihat makin banyak warga masyarakat hadir, meski ruang kelas persis di sebelah saya yang sudah dipenuhi pemilih belum juga memulai pencontrengan.

Hari makin siang. Harapan yang diberikan pada banyak nama akan segera terlihat nyata.

Saya memilih untuk memilih agar negara ini menjadi lebih baik.

Salam contreng!


Belajar dari Supir Taksi

November 26, 2008

Setiap hari saya selalu belajar dari apa saja, siapa saja, dan di mana saja. Dunia dan pengalaman hidup adalah kelas gratis dengan pelajaran berkualitas nomor satu yang wajib kita ikuti setiap hari. Dunia selalu menjadi kelas bagi saya untuk terus belajar. Asalkan bersikap terbuka dan mau belajar pasti kita akan mendapatkan banyak hal. Bayangkan. Setiap hari, setiap saat!

Hari ini saya belajar mengenai kepedulian merawat orang tua dan bersabar. Bukan dari buku atau pengalaman diri sendiri tetapi dari seorang supir taksi. Belajar dari pengalamannya memperhatikan dan merawat orang tua, bahkan mertuanya.  Kakak iparnya suatu waktu pernah ia ingatkan soal ini. Namun sayang, kakak iparnya ini tak mau mendengarkan, alih-alih lantaran pendidikannya yang rendah. Sama halnya dengan adik dan kakaknya yang menurutnya tidak mempedulikan orang tua. Tak sepeser uangpun yang diberikan mereka pada orang tua. Bahkan per orang cuma sepuluh ribu rupiah pun tidak ada. Menurutnya lagi mereka sibuk dengan harta dan hidup mereka dan lupa dengan orang tua. Ketika sakit dan saat meninggal dunia pun supir taksi ini yang merawat orang tuanya, sendirian, tanpa bantuan kakak atau adiknya.

Saya jadi diingatkan melalui pengalaman supir taksi tadi soal mempedulikan orang tua. Mungkin karena alasan pekerjaan dan rumah tangga sendiri selepas pernikahan, kita lupa pada orang tua. Mungkin juga karena buta harta, karir dan lainnya,  kita jadi lupa berkunjung ke rumah orang tua, rumah tempat kita dibesarkan, tempat kita mendapatkan perlindungan.  Kita lupa di rumah kita ada orang tua yang masih perlu kita perhatikan.

Bagi supir taksi yang saya ceritakan ini, merawat dan memperhatikan orang tua adalah penting. Meski orang tua sudah meninggal ia selalu sempatkan berkunjung ke kuburan, berdoa dan memohon maaf. Ini rupanya resepnya dalam hidup hingga menurutnya rejeki terus mengalir. Mau sukses seperti apa, jangan lupa sama orang tua. Demikian ia mengatakannya pada saya.  Dalam hati saya berterima kasih pada pak supir karena diingatkan mengenai kepedulian pada orang tua.

Merawat dan memperhatikan memang membutuhkan kesabaran. Sama seperti kita kecil, ketika orang tua merawat dan mengasuh kita. Orang tua sungguh sabar melakukan ini semua. Dari pengalaman supir taksi ini saya ingat orang tua saya. Betapa mereka seperti supir taksi ini kerja keras demi anak-anaknya. Demi saya, demi saya sekolah hingga mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. Bagaimana saya akhirnya bekerja dan bisa hidup sendiri tak lepas dari dukungan mereka, moril, materiil, dan juga doa mereka buat saya.

Saya bersyukur ayah dan ibu saya masih ada dan saya masih punya kesempatan untuk mempedulikan mereka, merawat dan memperhatikan mereka, sama seperti saya dirawat dan diasuh dari kecil. 

Saya lantas ingin cepat-cepat pulang dan bertemu mereka. Mendengarkan mereka. Belajar dari kisah-kisah mereka tentang hidup.


Kekerasan adalah Kita

November 5, 2008

Mutilasi. Siapa sangka manusia tega memotong-motong manusia lain. Siapa tak kenal Ryan sang mutilator, tanpa rasa takut memotong lebih dari 3 orang. Entah berapa korbannya. Sungguh sadis! Kasus lain, seorang istri tega memotong suami, lagi-lagi mutilasi terjadi. Astaga!

Kini menghabisi nyawa manusia sudah hal biasa. Tayangan sarapan pagi di televisi. Konflik dan bentrokan, kekerasan adalah main course dari hidangan pagi hari. Kita menyaksikan kekerasan seperti menonton film serial favorit. Bahkan kita semakin menikmati dan menanti. Benarkan?

Jakarta, kota padat penduduk dengan aneka rupa perilaku membuat manusia sering mengalami kekerasan. Secara individual, lembaga, komunitas/kelompok, adat istiadat dan budaya. Bahkan secara struktural maupun domestik. Kekerasan membentuk Jakarta. Serobot, serunduk, embat (baca: ambil tanpa permisi), pukul, potong. Kekerasan adalah Jakarta. Di rumah, di jalan, di pasar, terminal, kantor, di keluarga! Kita terkondisikan menjadi keras dan akhirnya melakukan kekerasan di ibukota ini.

Manusia adalah korban dan pelaku kekerasan. Seperti dua sisi mata uang. Manusia tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Sengaja atau tidak kita mampu berbuat kekerasan. Memukul, menendang, mencaci maki, meneror, bahkan membunuh, dan (yang sedang tren) memutilasi. Habis sehabis-habisnya.  Manusia adalah korban dan kekerasan itu sendiri.

Kekerasan adalah kita.


Kupu-kupu Lucu

November 4, 2008

Kupu-kupu lucu kemana hendak kau terbang, bolehkah kau hinggap dihatiku, sebentar saja supaya aku bisa tersenyum.

Kupu-kupu lucu maukah dirimu menemaniku menanti fajar esok hari, saat kusaksikan dirimu kembali terbang bersama angin.

Kupu-kupu lucu ijinkan aku memandang indah warnamu, seperti warna langit pagi yang mengajakku kembali menari.

Kupu-kupu lucu mari bersamaku berlari, usai hujan menanti di kaki pelangi.


Menarilah dan Terus Tertawa

Oktober 9, 2008


Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga. 

Kalimat di atas dikutip dari syair lagu berjudul Laskar Pelangi. Lagu tersebut dinyanyikan oleh NIDJI, sebuah soundtrack film berjudul sama, Laskar Pelangi. Laskar Pelangi adalah novel laris karya Andrea Hirata mengisahkan perjuangan hidup 10 anak Belitung dan juga pejuang pendidikan seperti tokoh Ibu Guru Muslimah dan Pak Harfan selaku kepala sekolah Muhammadiyah di Desa Gantung, Kabupaten Belitung Timur.

Film Laskar Pelangi mendapat tanggapan baik di masyarakat. Termasuk saya dan teman-teman. Ceritanya bergizi dan menyentuh. Bertutur lugas tanpa kedok membangkitkan semangat meraih mimpi. Menarik menyaksikan bagaimana sekolah Muhammadiyah disajikan secara visual oleh Riri Riza sang sutradara. Sekolah Muhammadiyah adalah sekolah sederhana, reot, yang juga dijadikan kandang kambing. Di dalam kelas itu terdapat peta Indonesia yang sudah tak layak pakai, compang-camping. Ini tanda betapa pendidikan di negeri kita pun belum diperhatikan baik. Betapa saya teringat sekolah saya ketika itu masih jauh lebih baik, saya bersyukur pada Yang Kuasa. Banyak nilai dan hal positif yang diraih ketika nonton film Laskar Pelangi. Patutlah jika anak-anak jaman sekarang diberi tayangan bergizi macam ini. 

Meski kondisi yang kurang baik, 10 anak Belitung ini terus menari. Terus tertawa. Sesuatu yang makin langka ditemukan di sudut kota metropolitan. Gairah dan semangat anak-anak ini patut menjadi pemacu kita untuk terus hidup. Terus berjuang dan memiliki harapan walau dunia tak seindah surga. Terus bermimpi lantas berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya…  Ah… sungguh indah. 

Mari menari. Mari tertawa. Mari berlari! Sampai kita berjumpa diujung kaki pelangi!

————

Trailer Film

http://www.youtube.com/watch?v=fFZVM8EDbKA

Laskar Pelangi di Kick Andy

http://www.youtube.com/watch?v=WK8pVwA-Zak

Nidji – Laskar Pelangi

http://www.youtube.com/watch?v=FwlKSKdsLG4