Di Luar Hujan Lebat
Basah. Semua orang menghindari mungkin juga menerobos tak henti.
Ada yang berteduh. Ada yang ngelamun menemani motor di bawah jembatan layang entah di belakang sana macet mobil-mobil antri karena jalan jadi menyempit.
Di balik ponco pakaian basah bahkan sampai ke dalam, kendaraan tetap dipacu karena penuhi janji, entah apa.
Di dalam rumah orang bersiap diri, mungkin air akan segera naik, banjir. Mengepung hingga tak bisa keluar rumah.
Di luar sana bocah-bocah berlari menghampiri menawarkan jasa ojek payung, tak peduli lagi badan kuyup, pakaian basah.
Di balik jendela seseorang sedang melamun memandang air menampar-nampar, kilat menyambar, deru geledek menggelegar.
Di dalam batok kepala, otak berputar, tak henti berpikir, akankah hujan berhenti sambil menanti mentari bersinar lagi
Memilih untuk Memilih

Pemilih memberikan suara di balik bilik suara
9 April 2009.
Kamis ini hari libur. Senang bisa leyeh-leyeh di rumah. Pagi cerah langit biru menambah semangat rencana pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hmmm… Pemungutan suara? Berarti suara tercecer lantas dipungut seperti pemulung memilah gelas plastik dan sampah kertas di tempat sampah.
Kok ga pas. Seharusnya kita, warga negara punya hak dan kewajiban memberikan suara, bukan membiarkan suara kita tercecer lantas dipungut begitu saja. Kita perlu mendukung harapan dan niat semua orang untuk menjadi lebih baik.
Dengan alasan itu saya memutuskan melangkahkan kaki menuju TPS. TPS di daerah pemilihan (dapil) saya adalah di sebuah SD. Tempat nyaman menghindari terik matahari, bersembunyi di balik kelas-kelas berukuran tak terlalu besar, lengkap dengan hiasan burung garuda, wajah pahlawan, dan nama-nama anak murid.

Kelas dipergunakan sebagai ruang pemberian suara
Sampai di tempat TPS sudah ada aktivitas. Banyak warga dengan senyum bangga mengangkat jari kelingking mereka ketika saya melintas. Senang melihat pemberian suara kali ini telah ditanggapi secara positif. Bahkan beberapa anak muda juga hadir memberikan suara mereka. Begitu juga kehadiran keluarga-keluarga, bapak, ibu dan anak mereka sebagai contoh sejak dini bahwa hak dan kewajiban memberikan suara adalah milik kita dan harus kita gunakan.
Kebanyakan orang seperti saya juga tidak mengenal caleg (calon legislatif) yang akan dicontreng. Informasi di dinding sekolah agak membantu saya untuk mempertimbangkan kepada siapa suara akan diberikan. Hanya butuh waktu sebentar saya sudah berada di balik kotak suara. Membungkukkan badan sambil membuka kertas suara, memegang spidol warna hitam , sambil mencari partai atau nama caleg yang akan saya pilih. Ah, ini saja… dengan cepat saya menentukan pilihan. Harapan saya, caleg ini semoga masih memiliki niat baik mewujudkan harapan-harapan warga negara seperti saya, membuat kondisi bangsa ini menjadi lebih baik.

Pemilih memasukkan surat suara ke kotak yang telah disediakan
Tinta warna ungu itu lantas melekat di kelingking setelah saya selesai memberikan suara. Sambil melangkah keluar saya lihat makin banyak warga masyarakat hadir, meski ruang kelas persis di sebelah saya yang sudah dipenuhi pemilih belum juga memulai pencontrengan.
Hari makin siang. Harapan yang diberikan pada banyak nama akan segera terlihat nyata.
Saya memilih untuk memilih agar negara ini menjadi lebih baik.
Salam contreng!
Belajar dari Supir Taksi
Setiap hari saya selalu belajar dari apa saja, siapa saja, dan di mana saja. Dunia dan pengalaman hidup adalah kelas gratis dengan pelajaran berkualitas nomor satu yang wajib kita ikuti setiap hari. Dunia selalu menjadi kelas bagi saya untuk terus belajar. Asalkan bersikap terbuka dan mau belajar pasti kita akan mendapatkan banyak hal. Bayangkan. Setiap hari, setiap saat!
Hari ini saya belajar mengenai kepedulian merawat orang tua dan bersabar. Bukan dari buku atau pengalaman diri sendiri tetapi dari seorang supir taksi. Belajar dari pengalamannya memperhatikan dan merawat orang tua, bahkan mertuanya. Kakak iparnya suatu waktu pernah ia ingatkan soal ini. Namun sayang, kakak iparnya ini tak mau mendengarkan, alih-alih lantaran pendidikannya yang rendah. Sama halnya dengan adik dan kakaknya yang menurutnya tidak mempedulikan orang tua. Tak sepeser uangpun yang diberikan mereka pada orang tua. Bahkan per orang cuma sepuluh ribu rupiah pun tidak ada. Menurutnya lagi mereka sibuk dengan harta dan hidup mereka dan lupa dengan orang tua. Ketika sakit dan saat meninggal dunia pun supir taksi ini yang merawat orang tuanya, sendirian, tanpa bantuan kakak atau adiknya.
Saya jadi diingatkan melalui pengalaman supir taksi tadi soal mempedulikan orang tua. Mungkin karena alasan pekerjaan dan rumah tangga sendiri selepas pernikahan, kita lupa pada orang tua. Mungkin juga karena buta harta, karir dan lainnya, kita jadi lupa berkunjung ke rumah orang tua, rumah tempat kita dibesarkan, tempat kita mendapatkan perlindungan. Kita lupa di rumah kita ada orang tua yang masih perlu kita perhatikan.
Bagi supir taksi yang saya ceritakan ini, merawat dan memperhatikan orang tua adalah penting. Meski orang tua sudah meninggal ia selalu sempatkan berkunjung ke kuburan, berdoa dan memohon maaf. Ini rupanya resepnya dalam hidup hingga menurutnya rejeki terus mengalir. Mau sukses seperti apa, jangan lupa sama orang tua. Demikian ia mengatakannya pada saya. Dalam hati saya berterima kasih pada pak supir karena diingatkan mengenai kepedulian pada orang tua.
Merawat dan memperhatikan memang membutuhkan kesabaran. Sama seperti kita kecil, ketika orang tua merawat dan mengasuh kita. Orang tua sungguh sabar melakukan ini semua. Dari pengalaman supir taksi ini saya ingat orang tua saya. Betapa mereka seperti supir taksi ini kerja keras demi anak-anaknya. Demi saya, demi saya sekolah hingga mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari orang tua. Bagaimana saya akhirnya bekerja dan bisa hidup sendiri tak lepas dari dukungan mereka, moril, materiil, dan juga doa mereka buat saya.
Saya bersyukur ayah dan ibu saya masih ada dan saya masih punya kesempatan untuk mempedulikan mereka, merawat dan memperhatikan mereka, sama seperti saya dirawat dan diasuh dari kecil.
Saya lantas ingin cepat-cepat pulang dan bertemu mereka. Mendengarkan mereka. Belajar dari kisah-kisah mereka tentang hidup.
Kekerasan adalah Kita
Mutilasi. Siapa sangka manusia tega memotong-motong manusia lain. Siapa tak kenal Ryan sang mutilator, tanpa rasa takut memotong lebih dari 3 orang. Entah berapa korbannya. Sungguh sadis! Kasus lain, seorang istri tega memotong suami, lagi-lagi mutilasi terjadi. Astaga!
Kini menghabisi nyawa manusia sudah hal biasa. Tayangan sarapan pagi di televisi. Konflik dan bentrokan, kekerasan adalah main course dari hidangan pagi hari. Kita menyaksikan kekerasan seperti menonton film serial favorit. Bahkan kita semakin menikmati dan menanti. Benarkan?
Jakarta, kota padat penduduk dengan aneka rupa perilaku membuat manusia sering mengalami kekerasan. Secara individual, lembaga, komunitas/kelompok, adat istiadat dan budaya. Bahkan secara struktural maupun domestik. Kekerasan membentuk Jakarta. Serobot, serunduk, embat (baca: ambil tanpa permisi), pukul, potong. Kekerasan adalah Jakarta. Di rumah, di jalan, di pasar, terminal, kantor, di keluarga! Kita terkondisikan menjadi keras dan akhirnya melakukan kekerasan di ibukota ini.
Manusia adalah korban dan pelaku kekerasan. Seperti dua sisi mata uang. Manusia tidak bisa dilepaskan dari kekerasan. Sengaja atau tidak kita mampu berbuat kekerasan. Memukul, menendang, mencaci maki, meneror, bahkan membunuh, dan (yang sedang tren) memutilasi. Habis sehabis-habisnya. Manusia adalah korban dan kekerasan itu sendiri.
Kekerasan adalah kita.
Kupu-kupu Lucu
Kupu-kupu lucu kemana hendak kau terbang, bolehkah kau hinggap dihatiku, sebentar saja supaya aku bisa tersenyum.
Kupu-kupu lucu maukah dirimu menemaniku menanti fajar esok hari, saat kusaksikan dirimu kembali terbang bersama angin.
Kupu-kupu lucu ijinkan aku memandang indah warnamu, seperti warna langit pagi yang mengajakku kembali menari.
Kupu-kupu lucu mari bersamaku berlari, usai hujan menanti di kaki pelangi.
Menarilah dan Terus Tertawa
Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga.
Kalimat di atas dikutip dari syair lagu berjudul Laskar Pelangi. Lagu tersebut dinyanyikan oleh NIDJI, sebuah soundtrack film berjudul sama, Laskar Pelangi. Laskar Pelangi adalah novel laris karya Andrea Hirata mengisahkan perjuangan hidup 10 anak Belitung dan juga pejuang pendidikan seperti tokoh Ibu Guru Muslimah dan Pak Harfan selaku kepala sekolah Muhammadiyah di Desa Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
Film Laskar Pelangi mendapat tanggapan baik di masyarakat. Termasuk saya dan teman-teman. Ceritanya bergizi dan menyentuh. Bertutur lugas tanpa kedok membangkitkan semangat meraih mimpi. Menarik menyaksikan bagaimana sekolah Muhammadiyah disajikan secara visual oleh Riri Riza sang sutradara. Sekolah Muhammadiyah adalah sekolah sederhana, reot, yang juga dijadikan kandang kambing. Di dalam kelas itu terdapat peta Indonesia yang sudah tak layak pakai, compang-camping. Ini tanda betapa pendidikan di negeri kita pun belum diperhatikan baik. Betapa saya teringat sekolah saya ketika itu masih jauh lebih baik, saya bersyukur pada Yang Kuasa. Banyak nilai dan hal positif yang diraih ketika nonton film Laskar Pelangi. Patutlah jika anak-anak jaman sekarang diberi tayangan bergizi macam ini.
Meski kondisi yang kurang baik, 10 anak Belitung ini terus menari. Terus tertawa. Sesuatu yang makin langka ditemukan di sudut kota metropolitan. Gairah dan semangat anak-anak ini patut menjadi pemacu kita untuk terus hidup. Terus berjuang dan memiliki harapan walau dunia tak seindah surga. Terus bermimpi lantas berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya… Ah… sungguh indah.
Mari menari. Mari tertawa. Mari berlari! Sampai kita berjumpa diujung kaki pelangi!
————
Trailer Film
http://www.youtube.com/watch?v=fFZVM8EDbKA
Laskar Pelangi di Kick Andy
http://www.youtube.com/watch?v=WK8pVwA-Zak
Nidji – Laskar Pelangi
Jatuh
Ya saya baru saja jatuh. Tepatnya jatuh dari motor. Maklum kemungkinan jatuh dan celaka di Jakarta saat mengendarai motor cukup besar. Besar dalam arti sering dan selalu. Belajar dari jatuh biasanya lantas menjadi lebih hati-hati. Waspada dan selalu siaga ketika berkendara.
Semua orang butuh cepat. Tergesa dan terburu-buru menjadi bagian sehari-hari yang harus dilalui. Bukan hanya padat jalan raya dan macet di mana-mana. Setiap warga ibukota berjuang menyelamatkan diri dari celaka, namun juga dituntut segera, saat ini tiba.
Saat saya jatuh, motor tidak saya pacu kencang. Jatuh hanya karena menghindari tabrakan dengan taksi yang tiba-tiba menengok ke kanan sementara saya hendak melaju lurus. Gubrak! Saya pun tertimpa motor mendarat mulus di aspal yang panas siang itu. Teman saya seorang wanita yang sedang membonceng pun ikut jatuh. Untung saja setiap kita jatuh ada yang rela membantu. Terima kasih teman-teman baru yang mengangkat motor saya dan menepikannya.
Lantas bagaimana urusannya? Minta ganti uang perawatan diri saya dan teman, lalu perbaikan motor? Untung saja puji Tuhan saya tidak luka berat begitupula teman saya. Kasihan juga si supir taksi yang menurut penuturannya belum dapat setoran. Terlepas dari bohong atau tidak, nyeri di lutut kiri kaki saya sudah meminta perhatian. Harus segera diobati. Saya pun mengalah. Sudahlah ini pelajaran buat saya dan si supir taksi untuk lebih berhati-hati.
Siang itu sembari nyeri di panas matahari saya melaju dengan hati-hati, tetap di tepi.
Ketika saya jatuh MInggu 21 September 2008 di depan Pasar Baru, Jakarta.
Es Teh Manis di Bromo
Segelas es teh manis adalah minuman penyegar dahaga usai aktivitas. Sangat umum dipesan oleh siapa saja karena termasuk cepat saji dan terjangkau harganya. Namun tidak demikian halnya di Bromo.
Begini ceritanya. Usai hunting foto bersama teman-teman, saya kembali ke penginapan. Penginapan ini memilik restoran yang menyajikan berbagai pilihan menu makanan dan minuman. Maklum banyak wisatawan manca negara “bule” yang singgah. Maka menunya pun disesuaikan dengan lidah dan kebiasaan makan mereka. Nah cerita menarikadalah ketika saya menghampiri pelayan restoran tersebut dan berkata, “Mas, es teh manis satu ya.” Senyum mas ini menghiasi wajahnya sambil meluncur kalimat, “Di sini ga ada es teh manis mas.” Lantas saya pun terkejut sambil teringat. Betapa bodohnya saya meminta es teh manis di kawasan puncak gunung seperti ini. “Kalo kita ingin es ke Probolinggo mas,” kata mas pelayan sambil mesem-mesem. Saya pun ikut tersenyum geli
Astaga betapa bodohnya meminta es teh manis di Bromo.
Menyentuh Hati yang Resah dan Gelisah
Mas A, CEO (Chief Executive Officer) Kelompok Buah-buahan (baca: KBb) yang berbisnis menerbitkan media sedang merasakan dua kata, resah dan gelisah, muncul ke permukaan beberapa minggu ini. Touch The Heart

Tinggalkan sebuah Komentar
Tinggalkan sebuah Komentar
Comments(1)
